Friday, 7 January 2011

filsafat Sigmund Freud tentang agama

A. SIGMUND FREUD (1856-1939)

· Biografi Sekilas

Sigmund Freud lahir di Moravia (sekarang daerah Slovakia), tetapi hidup di Wina sejak umur empat sampai delapan puluh dua tahun. Ia lulus sebagai dokter pada tahun 1881, tetapi tidak merasa tertarik pada kerja praktis dan melanjutkan risetnya. Pada tahun 1882 ia bekerja dirumah sakit umum Wina, terutama di bidang neuropatologi (ketidak sadaran otak). Hanya setelah ia pergi ke Paris pada tahun 1885 ia tertarik pada hysteria dan neurosis.

Sepuluh tahun berikutnya di dalam lingkungan kerja klinis di Wina terlihat perkembangan psikoanalisis sebagai cara sebagai cara penyembuhan. Minat Freud berpindah dari melihat gejala-gejalaneurotik ke pemeriksaan kerja alam pikiran manusia pada umumnya dan kemudian ke permasalahan-permasalahan kultural. Ia mempunyai hidup perkawinan yang bahagia dengan Martha bernays. Yang paling dibencinya adalah agama dan Amerika. Pada tahun 1938 Nazi menginvasi Austria, dan Freud dipaksa melarikan diri ke London. Ia meninggal disana pada tahun 1939, lantaran menderita sakit kanker mulut yang sudah dideritanya selama lima belas tahun. [1]

Karya Freud bersifat klinis dan teoritis ia berpraktek secara medis dan menulis sepanjang hidupnya. Ia menyamakan karyanya dengan arkeologi, menggali hal-hal dalam budi manusia yang telah lama terkubur.[2]

Dua penemuan Freud adalah:

1. Ketidaksadaran

2. Oedipus complex

Melalui penemuan ini Freud yakin bahwa ia telah sampai ke pemahaman mendalam mengenai struktur budi manusian dan kerja seksualitas manusia.


· Agama Menurut Sigmund Freud

Freud menerapkan psikoanalisis dalam sastra, mitologi, pendidikan, dan agama. Dalam buku karyanya, the future of an illusion (1927), Freud menyatakan bahwa agama adalah “pemenuhan harapan”: harapan manusia yang tak berdaya untuk mendapatkan perlindungan didalam dunia asing. Untuk memperoleh keadilan di dalam masyarakat yang tidak adil, untuk hidup kekal dan mengetahui asal dan makna dunia.

Ia percaya bahwa agama adalah “neurosis obsesional universal,” yang dasarnya, yang terletak pada “tabu” (“taboo” kata dasar Polinesia yang berarti hal yang dilarang). Pada dasarnya, upacara agama merupakan merupakan semacam tindakan neuritik, obsesif. Ada keinginan Oedipus untuk membunuh dan memangsa ayah.[3]

Oedipus adalah tokoh dalam mitologi Yunani, yang tanpa diketahuinya telah membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Freud yakin bahwa anak laki-laki pertama lekat pada ibunya dan melihat ayahnya sebagai saingan dalam memperoleh kasih ibu. Kemudian ia melukiskan “electra complex” untuk anak perempuan, tetapi ini tidak dikembangkan. Rasa takut dan cmemburu anak laki-laki terhadap ayahnya bercampur dengan rasa salah. Sebagai anak ia juga mempunyai rasa cinta terhadap ayahnya. Akibatnya, pengalaman awal seksual anak ditekan sampai remaja, sewaktu rasa itu muncul kembali karena perubahan fisik dalam tubuhnya. [4]

Maka bagi Freud, agama merupakan Oedipus complex-nya umat manusia. Ia percaya pada perkembangan sejarah yang melewati:

1. Animisme (memberi sifat religious kepada objek atau hewan) ke politeisme dan kemudian monoteisme.

2. Magis melalui agama ke sains.

Berbagai macam agama, yang hanya merupakan bentuk-bentuk yang berkembang dari totemisme primitive, selalu menyajikan suatu ide tentang Allah, yang sebenarnya hanyalah ide sang ayah manusiawi. Dalam hari depan suatu ilusi, maka Freud menekankan dan menggeneralisasikan teori itu. Sang anak mencari perlindungan pada ayahnya. Orang dewasa, karena suatu perpanjangan infantile, menciptakan seorang ayah yang lebih kuat lagi dari pada manusia, demi untuk mengisi kekurangannya. Perasaan patuh dan iri hati anak terhadap ayah di berikan, pada usia dewasa, dengan peralihan, kepada totem. Apabila umat manusia telah mencapai kedewasaan psikologis, maka dengan sendirinya agama akan lenyap.[5]



[1] Smith, Linda. Ide-ide Filsafat dan agama dulu dan sekarang. 2000, Kanisius: Yogyakarta. Hal. 95

[2] ibid. Hlm. 98

[3] Smith, Linda. Ide-ide Filsafat dan agama dulu dan sekarang. 2000, Kanisius: Yogyakarta. Hlm. 99

[4] Ibid, 98

[5] Leahy, Louis. Aliran-aliran besar Ateisme. 1985. Kanisius: Yogyakarta. Hlm. 45

filsafat Marx menurut agama

A. Karl Marx (1818-1883)

· Biografi Sekilas

Karl Marx lahir di Trier, sekarang Jerman, dalam keluarga kelas menengah dan menyenangkan. Keluarganya adalah Yahudi, tetapi telah bertobat menjadi Protestan. Marx menjadi mahasiswa di Bonn dan kemudian Berlin di mana ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang filsafat. Namun, ia tidak menjadi anggota akademis, melainkan mengarahkan diri pada jurnalisme sayap kiri sampai pemerintah menekan suarat kabar di mana ia bekerja. Ia menikahi kekasih masa kanak-kanaknya dan pindah ke Paris, di mana pada tahun 1843, ia bertemu dengan Freidrich Engels dan kerjasama mereka yang panjang pada saat itu. Setelah kegagalan revolusi 1848 di seluruh Eropa, Marx dan keluarganya pindah ke London di mana ia menghabiskan masa hidupnya.

Sebagai mahasisiwa di Berlin, Marx menemukan bahwa filsafat didominasi oleh Hegel (1770-1831), Hegel yakin bahwa sejarah merupakan proses metafisis menuju kesempurnaan. Para Hegelian muda, yakin bahwa proses atau dialektika merupakana sejarah kesadaran manusia yang membebaskan diri dari khayalan.

Filsafat Hegel penting karena ia menekankan ide-ide tertentu yang diambil alih oleh filusuf lain, termasuk Marx, yakni:

1. Sejarah adalah proses

2. Peristiwa dapat dimasukkan kedalam suatu system – sejarah mempunyai makna dan tujuan

3. Perubahan adalah kemajuan

4. Optimisme

Marx mengambil alih sebagian besar system Hegel kedalam filsafatnya sendiri, tetapi mengganti “metafisika” dengan “ekonomi” dan “bangsa-bangsa” dengan “kelas-kelas”. Sejarah menjadi “konflik kelas”, bukannya sejarah “budi” atau ”roh”.[1]

· Pandangan Marx Terhadap Agama

Marx percaya bahwa masyarakat membentuk kodrat manusia dan bukan sebaliknya. Maka, mengubah masyarakat berarti mengubah berarti mengubah dan sebgaai akibatnya, masalah-masalah masyarakt dan masalah-masalah manusia akan lenyap. Ia mempertahankan pandangan ini karena ia adalah seorang materialis. Ia hanya percaya akan materi badan yang ada. Akibatnya, ia tidak percaya bahwa manusia mempunyai jiwa atau roh.

Marx menjadi seorang Ateis sewaktu masih muda ia menerima bahwa kepercayaan akan Allah hanyalah “keinginan untuk terpenuhi”, dan bahwa karya Feurbach (1804-1872) telah membangun Ateisme. Karena itu Marx tidak berminat apakah Allah ada atau tidak, tetapi hanya berminat akan agama sebagai kekuatan sosial. Ia melihat agama sebagai “candu masyarakat”, yang membawa ilusikebahagiaan tetapi bukan kebahagiaan sejati, dan menyebabkan manusia memusatkan perhatian pada kehidupan abadi, bukannya yang sekarang.

Marx menulis:”kritik terhadap agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalalah makhluk tertinggi bagi manusia…” dengan membuat Allah berarti menjadi mampu memberi lebih banyak perhatian kepada manusia. Tetapi karena orang menghendaki Allah itu ada, apakah bahwa Allah tidak ada? Ateisme Marx bersifat pribadi dan mendahului filsafatnya.

Sementara Marx dalam banyak hal memberi pencerahan seperti bagaimana agama bekerja dalam masyarakat, masalah apakah Allah ada atau tidak harus tetap terbuka.



[1] Smith, Linda. Ide-ide Filsafat dan agama dulu dan sekarang. 2000, Kanisius: Yogyakarta. Hal. 116

A. Karl Marx (1818-1883)

· Biografi Sekilas

Karl Marx lahir di Trier, sekarang Jerman, dalam keluarga kelas menengah dan menyenangkan. Keluarganya adalah Yahudi, tetapi telah bertobat menjadi Protestan. Marx menjadi mahasiswa di Bonn dan kemudian Berlin di mana ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang filsafat. Namun, ia tidak menjadi anggota akademis, melainkan mengarahkan diri pada jurnalisme sayap kiri sampai pemerintah menekan suarat kabar di mana ia bekerja. Ia menikahi kekasih masa kanak-kanaknya dan pindah ke Paris, di mana pada tahun 1843, ia bertemu dengan Freidrich Engels dan kerjasama mereka yang panjang pada saat itu. Setelah kegagalan revolusi 1848 di seluruh Eropa, Marx dan keluarganya pindah ke London di mana ia menghabiskan masa hidupnya.

Sebagai mahasisiwa di Berlin, Marx menemukan bahwa filsafat didominasi oleh Hegel (1770-1831), Hegel yakin bahwa sejarah merupakan proses metafisis menuju kesempurnaan. Para Hegelian muda, yakin bahwa proses atau dialektika merupakana sejarah kesadaran manusia yang membebaskan diri dari khayalan.

Filsafat Hegel penting karena ia menekankan ide-ide tertentu yang diambil alih oleh filusuf lain, termasuk Marx, yakni:

1. Sejarah adalah proses

2. Peristiwa dapat dimasukkan kedalam suatu system – sejarah mempunyai makna dan tujuan

3. Perubahan adalah kemajuan

4. Optimisme

Marx mengambil alih sebagian besar system Hegel kedalam filsafatnya sendiri, tetapi mengganti “metafisika” dengan “ekonomi” dan “bangsa-bangsa” dengan “kelas-kelas”. Sejarah menjadi “konflik kelas”, bukannya sejarah “budi” atau ”roh”.[1]

· Pandangan Marx Terhadap Agama

Marx percaya bahwa masyarakat membentuk kodrat manusia dan bukan sebaliknya. Maka, mengubah masyarakat berarti mengubah berarti mengubah dan sebgaai akibatnya, masalah-masalah masyarakt dan masalah-masalah manusia akan lenyap. Ia mempertahankan pandangan ini karena ia adalah seorang materialis. Ia hanya percaya akan materi badan yang ada. Akibatnya, ia tidak percaya bahwa manusia mempunyai jiwa atau roh.

Marx menjadi seorang Ateis sewaktu masih muda ia menerima bahwa kepercayaan akan Allah hanyalah “keinginan untuk terpenuhi”, dan bahwa karya Feurbach (1804-1872) telah membangun Ateisme. Karena itu Marx tidak berminat apakah Allah ada atau tidak, tetapi hanya berminat akan agama sebagai kekuatan sosial. Ia melihat agama sebagai “candu masyarakat”, yang membawa ilusikebahagiaan tetapi bukan kebahagiaan sejati, dan menyebabkan manusia memusatkan perhatian pada kehidupan abadi, bukannya yang sekarang.

Marx menulis:”kritik terhadap agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalalah makhluk tertinggi bagi manusia…” dengan membuat Allah berarti menjadi mampu memberi lebih banyak perhatian kepada manusia. Tetapi karena orang menghendaki Allah itu ada, apakah bahwa Allah tidak ada? Ateisme Marx bersifat pribadi dan mendahului filsafatnya.

Sementara Marx dalam banyak hal memberi pencerahan seperti bagaimana agama bekerja dalam masyarakat, masalah apakah Allah ada atau tidak harus tetap terbuka.



[1] Smith, Linda. Ide-ide Filsafat dan agama dulu dan sekarang. 2000, Kanisius: Yogyakarta. Hal. 116