Friday, 7 January 2011

A. Karl Marx (1818-1883)

· Biografi Sekilas

Karl Marx lahir di Trier, sekarang Jerman, dalam keluarga kelas menengah dan menyenangkan. Keluarganya adalah Yahudi, tetapi telah bertobat menjadi Protestan. Marx menjadi mahasiswa di Bonn dan kemudian Berlin di mana ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang filsafat. Namun, ia tidak menjadi anggota akademis, melainkan mengarahkan diri pada jurnalisme sayap kiri sampai pemerintah menekan suarat kabar di mana ia bekerja. Ia menikahi kekasih masa kanak-kanaknya dan pindah ke Paris, di mana pada tahun 1843, ia bertemu dengan Freidrich Engels dan kerjasama mereka yang panjang pada saat itu. Setelah kegagalan revolusi 1848 di seluruh Eropa, Marx dan keluarganya pindah ke London di mana ia menghabiskan masa hidupnya.

Sebagai mahasisiwa di Berlin, Marx menemukan bahwa filsafat didominasi oleh Hegel (1770-1831), Hegel yakin bahwa sejarah merupakan proses metafisis menuju kesempurnaan. Para Hegelian muda, yakin bahwa proses atau dialektika merupakana sejarah kesadaran manusia yang membebaskan diri dari khayalan.

Filsafat Hegel penting karena ia menekankan ide-ide tertentu yang diambil alih oleh filusuf lain, termasuk Marx, yakni:

1. Sejarah adalah proses

2. Peristiwa dapat dimasukkan kedalam suatu system – sejarah mempunyai makna dan tujuan

3. Perubahan adalah kemajuan

4. Optimisme

Marx mengambil alih sebagian besar system Hegel kedalam filsafatnya sendiri, tetapi mengganti “metafisika” dengan “ekonomi” dan “bangsa-bangsa” dengan “kelas-kelas”. Sejarah menjadi “konflik kelas”, bukannya sejarah “budi” atau ”roh”.[1]

· Pandangan Marx Terhadap Agama

Marx percaya bahwa masyarakat membentuk kodrat manusia dan bukan sebaliknya. Maka, mengubah masyarakat berarti mengubah berarti mengubah dan sebgaai akibatnya, masalah-masalah masyarakt dan masalah-masalah manusia akan lenyap. Ia mempertahankan pandangan ini karena ia adalah seorang materialis. Ia hanya percaya akan materi badan yang ada. Akibatnya, ia tidak percaya bahwa manusia mempunyai jiwa atau roh.

Marx menjadi seorang Ateis sewaktu masih muda ia menerima bahwa kepercayaan akan Allah hanyalah “keinginan untuk terpenuhi”, dan bahwa karya Feurbach (1804-1872) telah membangun Ateisme. Karena itu Marx tidak berminat apakah Allah ada atau tidak, tetapi hanya berminat akan agama sebagai kekuatan sosial. Ia melihat agama sebagai “candu masyarakat”, yang membawa ilusikebahagiaan tetapi bukan kebahagiaan sejati, dan menyebabkan manusia memusatkan perhatian pada kehidupan abadi, bukannya yang sekarang.

Marx menulis:”kritik terhadap agama berakhir dengan ajaran bahwa manusia adalalah makhluk tertinggi bagi manusia…” dengan membuat Allah berarti menjadi mampu memberi lebih banyak perhatian kepada manusia. Tetapi karena orang menghendaki Allah itu ada, apakah bahwa Allah tidak ada? Ateisme Marx bersifat pribadi dan mendahului filsafatnya.

Sementara Marx dalam banyak hal memberi pencerahan seperti bagaimana agama bekerja dalam masyarakat, masalah apakah Allah ada atau tidak harus tetap terbuka.



[1] Smith, Linda. Ide-ide Filsafat dan agama dulu dan sekarang. 2000, Kanisius: Yogyakarta. Hal. 116

No comments:

Post a Comment